Pengorbanan Itu Indah

Manusia seringkali tidak dapat disadarkan atas kesalahan-kesalahan atau kejahatan-kejahatan yang dilakukannya meskipun telah diperingatkan dan diingatkan beberapa kali, dengan berbagai cara sekalipun oleh orang yang dicintai maupun yang mencintainya.


Sampai ketika suatu peristiwa ekstrim, misalnya demi menyelamatkan orang tersebut dari akibat perbuatannya itu, menyebabkan orang yang dicintainya itu sampai meninggal. Barulah yang bersangkutan itu shock, seolah-olah baru terbangun dari mimpi buruk, menyesali semua perbuatan jahatnya, kemudian bertobat, dan mulai hidup baru yang bebas dari segala macam perbuatan jahat.

Saudaraku, proses sengsara Yesus sampai wafat  di kayu salib ialah pemberian dan pengorbanan diri yang tak terhingga. Karena Kasih, Yesus rela mati untuk menebus manusia yang berdosa. Pengorbanan Yesus itu indah karena mendatangkan keselamatan bagi dunia dan kemuliaan bagi Allah. "Sesungguhnya, penyakit kitalah yang ditanggung-Nya, dan kesengsaraan kitalah yang dipikul-Nya. (Yes 53: 4).

Yesus rela menderita dan wafat di salib karena ketataan-Nya pada kehendak Bapa untuk menyelamatkan manusia. "Sebab imam besar yang kita punya, bukanlah imam besar yang tidak turut merasakan kelemahan-kelemahan kita, sebaliknya sama dengan kita, Ia telah dicobai, hanya Ia tidak berbuat dosa. (Ibr 4: 25).

Saudaraku, jika sedemikian besar kasih dan pengorbanan Yesus bagi kita, maka kitapun jangan berbuat dosa lagi. Kitapun harus rela dan siap mengorbankan hidup kita bagi sesama kita. Apa yang telah ditunjukkan oleh Yesus melalui keteladan dan pengorbanan-Nya, hendaklah kita lakukan dalam hidup. Dalam tugas dan tanggungjawab kita setiap hari, ada pengorbanan yang harus dipersembahkan. Korban waktu, uang, tenaga, pikiran, perasaan, dan bahkan nyawa. Namun semua pengorbanan itu tidaklah sia-sia. Di dalam kasih Tuhan, pengorbanan itu indah. Cinta sejati menuntut pengorbanan diri bukan kata-kata belaka.